Analgetika merupakan obat atau senyawa yang dalam dosis terapeutik meringankan atau menekan rasa nyeri atau sakit. Rasa nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering. Walaupun nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi dan sering memudahkan diagnosa. Seluruh kulit luar mukosa yang membatasi jaringan dan juga banyak organ dalam bagian dalam tubuh peka terhadap rasa nyeri, tetapi terdapat juga organ tidak mempunyai reseptor nyeri, seperti misalnya otak. Rasa nyeri yang ditimbulkan oleh berbagai rangsang mekanis, kimia atau listrik, dan fisis, yang melewati nilai ambang nyeri dan karena itu menyebabkan karusakan jaringan dengan pembebasan senyawa nyeri. Kualitas nyeri menurut tempat kerjanya dibagi menjadi nyeri somatik dan nyeri dalaman(viseral). Dikatakan nyeri somatik, yang dibagi lagi atas 2 kualitas yaitu nyeri permukaan dan nyeri dalam, apabila rasa nyeri berasal dari kulit, otot, persendiaan, tulang atau dari jaringan ikat. Apabila rangsangan bertempat dalam kulit maka rasa nyeri disebut nyeri permukaan. Sebaliknya nyeri yang berasal dari otot, persendian, tulang dan jaringan ikat disebut nyeri dalam. Nyeri permukaan yang terbentuk kira-kira setelah tertusuk dengan jarum pada kulit, mempunyai karakter yang ringan, dapat dilokalisasi dengan baik dan cepat hilang setelah berakhirnya rangsangan. Arti dari yang disebut pertama terutama bahwa nyeri ini menyebabkan suatu reaksi menghindar secara reflek, yang diikuti intensitas rangsangan yang tinggi, nyeri kedua akan timbul setelah beristirahat sejenak, yang bersifat menekan dan membakar yang sukar untuk delokalisasi dan lambat hilang. Nyeri dalam juga dirasakan sebagai tekanan, sukar dilokalisasi dan kebanyakan menyebar ke sekitarnya. Nyeri ini diikuti oleh reaksi afektif dan vegetatif seperti dalam penurunan tekanan darah. Nyeri dalaman (viseral) ini bersifat manekan dan reaksi vegetatif yang di sertai. Nyeri ini terjadi antara lain pada tegangan organ perut, kejang otot polos, aliran darah kurang dan penyakit yang disertai radang. Reseptor nyeri (nosiseptor) diterima oleh reseptor nyeri khusus, yang merupakan ujung saraf bebas. Karena ujung saraf bebas juga dapat menerima rangsangan sensasi lain, maka kespesifikan fungsional mungkin berkaitan dengan deferensiasi pada tahap molekul, yang tidak dapat diketahui dengan pengamatan cahaya dan efek tronoptik. (Anonim, 1980)
Zat nyeri seperti telah disebutkan, rangsang yang cukup untuk menimbulkan rasa nyeri ialah kerusakan jaringan atau gangguan metabolisme jaringan. Disini senyawa tubuh sendiri di bebaskan dari sel-sel yang rusak, yang disebut zat nyeri (mediator nyeri), yang menyebabkan perangsangan reseptor nyeri. Yang termasuk zat nyeri yang potensinya kecil adalah ion hidrogen. Pada penurunan nilai pH di bawah 6 selalu terjadi rasa nyeri yang meningkat pada kenaikan konsentrasi ion H+ lebih lanjut. Kerja lemah yang mirip di punyai juga oleh ion kalium yang keluar dari ruang intrasel setelah terjadi kerusakan jaringan dan dalam interstisium pada konsentrasi > 20 mmol/liter menimbulkan rasa nyeri. Demikian juga berbagai neurotransmiter dapat bekerja sebagai zat nyeri pada kerusakan jaringan. Histamin pada konsentrasi tinggi terbukti sebagai zat nyeri. Asetilkolin pada konsentrasi rendah mensetabilisasi reseptor nyeri terhadap zat nyeri lain, sehingga senyawa ini bersama-sama dengan senyawa yang dalam konsentrasi yang sesuai dapat menimbulkan rasa nyeri, pada konsentrasi tinggi asetikolin bekerja sebagai zat nyeri yang berdiri sendiri. Serotonin merupakan senyawa yang menimbulkan nyeri yang paling efektif dari kelompok transmiter. Selain itu juga ada bradikinin, yang termasuk senyawa penyebab nyeri yang terkuat. Prostaglandin, yang di bentuk lebih banyak dalam peristiwa nyeri, menstabilisasi reseptor nyeri. (Ernst Mutschler. 1991)
Potensial aksi (impuls nosiseptif) yang terbentuk pada reseptor nyeri di teruskan melalui serabut aferen kedalam akar dorsal sumsum tulang belakang. Pada tempat kontak awal bertemu tidak hanya serabut aferen, yang impulsnya tumpang tindih, tetapi disini juga terjadi reflek somatik dan vegetatif awal akibat rangsang kimia, fisis, mekanik melalui interneuron. Disamping itu terjadi juga pengaruh terhadap serabut aferen melalui sistem penghambat nyeri menurun. Pembentukan impuls nyeri terjadi pada dasarnya melalui interneuron pada neuron-neuron selanjutnya yang menyilang pada sisi yang lain dan menuju ke arah pusat dalam tractus spinothalamicus, kemudian serabut-serabut yang berakhir dalam daerah Formatio reticularis menimbulkan terutama reaksi vegetatif. Tempat kontak lain yang khusus penting dari serabut nyeri adalah thalamus opticus. Kemudian tidak hanya perangsangan pada serabut yang menuju ke gyrus postcentralis (celah central belakang), tempat lokalisasi nyeri, melainkan dari sini juga impuls diteruskan ke sistem limbik, yang terutama terlibat pada penilaian emosional nyeri. Oleh otak besar dan otak kecil bersama-sama dilakukan reaksi perlindungan dan reaksi menghindar yang terkoordinasi. (Anonim. 2005)
Secara umum, analgetik dibagi ke dalam dua golongan, yakni:
a. ANALGETIK NON NARKOTIK atau “integumental analgetics” misalnya asetosal dan parasetamol. Obat-obat ini dinamakan analgetik perifer karena tidak mempengaruhi susunan saraf sentral, tidak menurunkan kesadaran dan tidak mengakibatkan ketagihan.
b. ANALGETIK NARKOTIK atau “visceral analgetics” misalnya morfin. Analgetik ini memiliki daya penghalang rasa nyeri yang sangat kuat sekali, mengurangi kesadaran (mengantuk) dan memberikan perasaan nyaman (euphoria). Obat ini dapat juga menyebabkan toleransi, kebiasaan (habituasi), ketergantungan fisik dan psikis (adiksi) dan gejala-gejala abstinensia bila diputuskan pengobatannya.
Efek analgetik sangat selektif dan tidak disertai oleh hilangnya fungsi sensorik lainnya yaitu rasa raba, rasa getar (vibrasi), penglihatan dan pendengaran, bahkan persepsi stimulasi nyeri pun tidak selalu hilang setelah pemberian obat analgesik dosis terapi. Yang terjadi adalah suatu perubahan reaksi terhadap stimulus nyeri yaitu penderita sering mengatakan bahwa masih ada nyeri tetapi ia tidak menderita lagi. Beberapa proses terjadinya nyeri dapat dilawan :
- Merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor nyeri perifer (analgetik perifer, anestesi lokal)
- Merintangi penyaluran rasa nyeri dalam saraf-saraf sensorik (anastesi lokal)
- Memblokade atau menghambat rasa nyeri di pusat nyeri dalam susunan saraf pusat.
DISTRIBUSI RESEPTOR
Secara fungsional dibedakan 2 jenis reseptor, yang dapat menyusun 2 sistem serabut berbeda :
• Mekanoreseptor, yang meneruskan nyeri permukaan melalui serabut A-delta bermielin.
• Termoreseptor, yang meneruskan nyeri kedua melalui serabut-serabut C yang tidak bermielin.
Reseptor opioid densitas tinggi terdapat pada lima daerah umum susunan saraf pusat yang diketahui terlibat dalam mengintegrasi pembentukan nyeri. Jalan ini menurunkan dari perikuaduktus abu-abu (PAG) menuju komu dorsalis medula spinalis. Reseptor ini juga dapat di identifikasi dari perifer.
• Batang otak
Reseptor opioid mempengaruhi pernafasan, batuk, mual dan muntah, memelihara tekanan darah, diameter pupil, dan mengontrol sekresi lambung.
• Talamus medialis
Daerah ini mempengaruhi rasa nyeri yang dalam yang tidak terdelokalisasi dan mempengaruhi emosi.
• Medula spinalis
Reseptor-reseptor di dalam substansia galatinosa terlibat dengan penerimaan dan integrasi hasil pembentukan sensorik, yang mempengaruhi pengurangan rasa nyeri stimulus aferen.
• Hipotalamus
Reseptor ini mempengaruhi seksresi neuro endokrin.
• Sistem libik
Konsentrasi reseptor yang terbesar pada sistem limbik yang terdapat pada amigdala. Reseptor ini kemungkinan tidak mempunyai kerja analgetik tetapi dapat mempengaruhi tingkah laku emosi.
• Perifer
Opioid juga terikat pada serabut-serabut saraf perifer dan ujung-ujung termialnya. Sama seperti di susunan saraf pusat, opioid ini menghambat jangkitan eksitasi saraf yang timbulnya tergantung pada ion Ca2+, substansi proinflamasi dari ujung saraf ini.
• Efek imun
Tempat pengikatan opioid juga terdapat dalam sel imun. Peranan reseptor-reseptor ini dalam nosisepsi(respons atau sensitivitas terhadap rangsangan nyeri).
(Mary J Maycek, Richard A. Harvey, 2001)
Pustaka :
- Anonim. 1980. Farmakologi Dasar Dan Terapi Edisi II. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Anonim. 2005. Farmakologi Dasar Dan Terapi Edisi IV. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Ernst Mutschler. 1991. Dinamika Obat. Bandung : ITB
- Goodman Dan Gilman. 2008. Dasar Farmakologi Terapi Volume 1. Penerbit Buku Kedokteran : EGC
- Mary J Maycek, Richard A. Harvey. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2. Jakarta : Widya Medika