Analgetika

Analgetika merupakan obat atau senyawa yang dalam dosis terapeutik meringankan atau menekan rasa nyeri atau sakit. Rasa nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering. Walaupun nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi dan sering memudahkan diagnosa. Seluruh kulit luar mukosa yang membatasi jaringan dan juga banyak organ dalam bagian dalam tubuh peka terhadap rasa nyeri, tetapi terdapat juga organ tidak mempunyai reseptor nyeri, seperti misalnya otak. Rasa nyeri yang ditimbulkan oleh berbagai rangsang mekanis, kimia atau listrik, dan fisis, yang melewati nilai ambang nyeri dan karena itu menyebabkan karusakan jaringan dengan pembebasan senyawa nyeri. Kualitas nyeri menurut tempat kerjanya dibagi menjadi nyeri somatik dan nyeri dalaman(viseral). Dikatakan nyeri somatik, yang dibagi lagi atas 2 kualitas yaitu nyeri permukaan dan nyeri dalam, apabila rasa nyeri berasal dari kulit, otot, persendiaan, tulang atau dari jaringan ikat. Apabila rangsangan bertempat dalam kulit maka rasa nyeri disebut nyeri permukaan. Sebaliknya nyeri yang berasal dari otot, persendian, tulang dan jaringan ikat disebut nyeri dalam. Nyeri permukaan yang terbentuk kira-kira setelah tertusuk dengan jarum pada kulit, mempunyai karakter yang ringan, dapat dilokalisasi dengan baik dan cepat hilang setelah berakhirnya rangsangan. Arti dari yang disebut pertama terutama bahwa nyeri ini menyebabkan suatu reaksi menghindar secara reflek, yang diikuti intensitas rangsangan yang tinggi, nyeri kedua akan timbul setelah beristirahat sejenak, yang bersifat menekan dan membakar yang sukar untuk delokalisasi dan lambat hilang. Nyeri dalam juga dirasakan sebagai tekanan, sukar dilokalisasi dan kebanyakan menyebar ke sekitarnya. Nyeri ini diikuti oleh reaksi afektif dan vegetatif seperti dalam penurunan tekanan darah. Nyeri dalaman (viseral) ini bersifat manekan dan reaksi vegetatif yang di sertai. Nyeri ini terjadi antara lain pada tegangan organ perut, kejang otot polos, aliran darah kurang dan penyakit yang disertai radang. Reseptor nyeri (nosiseptor) diterima oleh reseptor nyeri khusus, yang merupakan ujung saraf bebas. Karena ujung saraf bebas juga dapat menerima rangsangan sensasi lain, maka kespesifikan fungsional mungkin berkaitan dengan deferensiasi pada tahap molekul, yang tidak dapat diketahui dengan pengamatan cahaya dan efek tronoptik. (Anonim, 1980)

Zat nyeri seperti telah disebutkan, rangsang yang cukup untuk menimbulkan rasa nyeri ialah kerusakan jaringan atau gangguan metabolisme jaringan. Disini senyawa tubuh sendiri di bebaskan dari sel-sel yang rusak, yang disebut zat nyeri (mediator nyeri), yang menyebabkan perangsangan reseptor nyeri. Yang termasuk zat nyeri yang potensinya kecil adalah ion hidrogen. Pada penurunan nilai pH di bawah 6 selalu terjadi rasa nyeri yang meningkat pada kenaikan konsentrasi ion H+ lebih lanjut. Kerja lemah yang mirip di punyai juga oleh ion kalium yang keluar dari ruang intrasel setelah terjadi kerusakan jaringan dan dalam interstisium pada konsentrasi > 20 mmol/liter menimbulkan rasa nyeri. Demikian juga berbagai neurotransmiter dapat bekerja sebagai zat nyeri pada kerusakan jaringan. Histamin pada konsentrasi tinggi terbukti sebagai zat nyeri. Asetilkolin pada konsentrasi rendah mensetabilisasi reseptor nyeri terhadap zat nyeri lain, sehingga senyawa ini bersama-sama dengan senyawa yang dalam konsentrasi yang sesuai dapat menimbulkan rasa nyeri, pada konsentrasi tinggi asetikolin bekerja sebagai zat nyeri yang berdiri sendiri. Serotonin merupakan senyawa yang menimbulkan nyeri yang paling efektif dari kelompok transmiter. Selain itu juga ada bradikinin, yang termasuk senyawa penyebab nyeri yang terkuat. Prostaglandin, yang di bentuk lebih banyak dalam peristiwa nyeri, menstabilisasi reseptor nyeri. (Ernst Mutschler. 1991)

Potensial aksi (impuls nosiseptif) yang terbentuk pada reseptor nyeri di teruskan melalui serabut aferen kedalam akar dorsal sumsum tulang belakang. Pada tempat kontak awal bertemu tidak hanya serabut aferen, yang impulsnya tumpang tindih, tetapi disini juga terjadi reflek somatik dan vegetatif awal akibat rangsang kimia, fisis, mekanik melalui interneuron. Disamping itu terjadi juga pengaruh terhadap serabut aferen melalui sistem penghambat nyeri menurun. Pembentukan impuls nyeri terjadi pada dasarnya melalui interneuron pada neuron-neuron selanjutnya yang menyilang pada sisi yang lain dan menuju ke arah pusat dalam tractus spinothalamicus, kemudian serabut-serabut yang berakhir dalam daerah Formatio reticularis menimbulkan terutama reaksi vegetatif. Tempat kontak lain yang khusus penting dari serabut nyeri adalah thalamus opticus. Kemudian tidak hanya perangsangan pada serabut yang menuju ke gyrus postcentralis (celah central belakang), tempat lokalisasi nyeri, melainkan dari sini juga impuls diteruskan ke sistem limbik, yang terutama terlibat pada penilaian emosional nyeri. Oleh otak besar dan otak kecil bersama-sama dilakukan reaksi perlindungan dan reaksi menghindar yang terkoordinasi. (Anonim. 2005)

Secara umum, analgetik dibagi ke dalam dua golongan, yakni:
a. ANALGETIK NON NARKOTIK atau “integumental analgetics” misalnya asetosal dan parasetamol. Obat-obat ini dinamakan analgetik perifer karena tidak mempengaruhi susunan saraf sentral, tidak menurunkan kesadaran dan tidak mengakibatkan ketagihan.
b. ANALGETIK NARKOTIK atau “visceral analgetics” misalnya morfin. Analgetik ini memiliki daya penghalang rasa nyeri yang sangat kuat sekali, mengurangi kesadaran (mengantuk) dan memberikan perasaan nyaman (euphoria). Obat ini dapat juga menyebabkan toleransi, kebiasaan (habituasi), ketergantungan fisik dan psikis (adiksi) dan gejala-gejala abstinensia bila diputuskan pengobatannya.
Efek analgetik sangat selektif dan tidak disertai oleh hilangnya fungsi sensorik lainnya yaitu rasa raba, rasa getar (vibrasi), penglihatan dan pendengaran, bahkan persepsi stimulasi nyeri pun tidak selalu hilang setelah pemberian obat analgesik dosis terapi. Yang terjadi adalah suatu perubahan reaksi terhadap stimulus nyeri yaitu penderita sering mengatakan bahwa masih ada nyeri tetapi ia tidak menderita lagi. Beberapa proses terjadinya nyeri dapat dilawan :

  • Merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor nyeri perifer (analgetik perifer, anestesi lokal)
  • Merintangi penyaluran rasa nyeri dalam saraf-saraf sensorik (anastesi lokal)
  • Memblokade atau menghambat rasa nyeri di pusat nyeri dalam susunan saraf pusat.

DISTRIBUSI RESEPTOR
Secara fungsional dibedakan 2 jenis reseptor, yang dapat menyusun 2 sistem serabut berbeda :
Mekanoreseptor, yang meneruskan nyeri permukaan melalui serabut A-delta bermielin.
Termoreseptor, yang meneruskan nyeri kedua melalui serabut-serabut C yang tidak bermielin.
Reseptor opioid densitas tinggi terdapat pada lima daerah umum susunan saraf pusat yang diketahui terlibat dalam mengintegrasi pembentukan nyeri. Jalan ini menurunkan dari perikuaduktus abu-abu (PAG) menuju komu dorsalis medula spinalis. Reseptor ini juga dapat di identifikasi dari perifer.
• Batang otak
Reseptor opioid mempengaruhi pernafasan, batuk, mual dan muntah, memelihara tekanan darah, diameter pupil, dan mengontrol sekresi lambung.
Talamus medialis
Daerah ini mempengaruhi rasa nyeri yang dalam yang tidak terdelokalisasi dan mempengaruhi emosi.
Medula spinalis
Reseptor-reseptor di dalam substansia galatinosa terlibat dengan penerimaan dan integrasi hasil pembentukan sensorik, yang mempengaruhi pengurangan rasa nyeri stimulus aferen.
Hipotalamus
Reseptor ini mempengaruhi seksresi neuro endokrin.

Sistem libik
Konsentrasi reseptor yang terbesar pada sistem limbik yang terdapat pada amigdala. Reseptor ini kemungkinan tidak mempunyai kerja analgetik tetapi dapat mempengaruhi tingkah laku emosi.

• Perifer
Opioid juga terikat pada serabut-serabut saraf perifer dan ujung-ujung termialnya. Sama seperti di susunan saraf pusat, opioid ini menghambat jangkitan eksitasi saraf yang timbulnya tergantung pada ion Ca2+, substansi proinflamasi dari ujung saraf ini.
• Efek imun
Tempat pengikatan opioid juga terdapat dalam sel imun. Peranan reseptor-reseptor ini dalam nosisepsi(respons atau sensitivitas terhadap rangsangan nyeri).

(Mary J Maycek, Richard A. Harvey, 2001)

 

Pustaka :
- Anonim. 1980. Farmakologi Dasar Dan Terapi Edisi II. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Anonim. 2005. Farmakologi Dasar Dan Terapi Edisi IV. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Ernst Mutschler. 1991. Dinamika Obat. Bandung : ITB
- Goodman Dan Gilman. 2008. Dasar Farmakologi Terapi Volume 1. Penerbit Buku Kedokteran : EGC
- Mary J Maycek, Richard A. Harvey. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2. Jakarta : Widya Medika

Ditulis pada Tak Berkategori | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Penetapan Waktu Pengambilan Cuplikan, Pemilihan Dosis Dan Asumsi Model Kompartemen

Obat berada dalam suatu keadaan dinamik dalam tubuh. Dalam suatu sistem biologik peristiwa – peristiwa yang dialami obat seringterjadi secara serentak. Dalam menggambarkan sistem biologik yang komplekstersebut, dibuat penyederhanaan anggapan mengenai pergerakan obat  itu.

Suatu hipotesis atau model disusun dengan menggunakn istilah matematik, yang memberi arti singkat dari pernyataan hubungan kuantitatif. Berbagai model matematik dapat dirancang untuk meniru proses laju absorpsi, distribusi dan eliminasi obat. Model matematik ini memungkinkan pengembangan persamaan untuk menggambarkan konsentrasi obat dalam tubuh sebagai fungsi waktu. Model farmakokinetik berguna untuk :

a)            Memperkirakan kadar obat dalam plasma, jaringan dan urine pada berbagai pengaturan dosis

b)            Menghitung pengaturan dosis optimum untuk tiap penderita secara individual

c)            Memperkirakan kemungkinan akumulasi obat dngan aktivitas farmakologi atau metabolit – metabolit

d)           Menghibungakan kemungkinan konsentrasi obat dengan aktivitas farmakologik atau toksikologik

e)            Menilai perubahan laju atau tingkat availabilitas antar formulasi

f)             Menggambarkan perubahan faal atau penyakit yang mempengaruhi absorbsi, distribusi dan eliminasi

g)            Menjelaskan interaksi obat

(Shargel dan Yu, 1988)

Model kompartemen, yakni :

1.            Model Mammillary

Model terdiri atas satu atau lebih kompartemen perifer yang dihubungkan ke suatu kompartemen sentral. Kompartemen sentral mewakili plasma dan jaringan-jaringan yang perfusinya tinggi dan secara cepat berkesetimbangan dengan obat. Model mamillary dapat dianggap sebagai suatu sistem yang berhubungan secara erat, karena jumlah obat dalam setiap kompartemen dalam setiap sistem tersebut dapat diperkirakan setelah obat dimasukkan ke dalam suatu kompartemen tertentu. Menurut Mammillary model kompartemen dibagi menjadi :

a)            Kompartemen satu terbuka iv

Perfusi terjadi sangat cepat seperti tanpa proses distribusi sebab distribusi tidak diamati karena terlalu cepatnya. (Hanya ada satu fase yaitu eliminasi).

b)            Kompartemen satu terbuka ev

Sebelum memasuki kompartemen sentral, obat harus mengalami absorbsi. (Terdiri dari 2 fase yaitu absorbsi dan eliminasi).

c)            Kompartemen 2 terbuka iv

Kompartemen dianggap hanya satu dan ada proses distribusi dari sentral ke perifer atau sebaliknya. Tidak ada proses absorbsi tetapi ada proses eliminasi.

d)            Kompartemen 2 terbuka ev

Obat mengalami proses absorpsi, distribusi dan eliminasi.

2.            Model Caternary

Dalam farmakokinetika model mammilary harus dibedakan dengan macam model kompartemen yang lain yang disebut model caternary. Model caternary terdiri atas kompartemen-kompartemen yang bergabung satu dengan yang lain menjadi satu deretan kompartemen. Sebaliknya, model mammilary terdiri atas satu atau lebih kompartemen yang mengelilingi suatu kompartemen sentral.

3.                  Model Fisiologik (Model Aliran)

Model fisiologik juga dikenal sebagai model aliran darah atau model perfusi, merupakan model farmakokinetik yang didasarkan atas data anatomik dan fisiologik yang diketahui.  Makna yang nyata dari model fisiologik adalah dapat digunakannya  model ini dalam memprakirakan farmakokinetika pada manusia dari data hewan. Jadi, parameter-parameter fisiologik dan anatomik dapat digunakan  untuk memprakirakan efek obat pada manusia berdasar efek obat pada hewan.

(Shargel dan Yu, 1988)

Pustaka

  • Gibson, G. Gordon, Paul Skett, 1991, Pengantar Metabolisme Obat,  Penerbit UI  Press, Jakarta
  • Shargel, Leon, Andrew B. C. Yu, 1988, Biofarmasetika Dan Farmakokinetika Terapan Penerbit Airlangga University Press, Surabaya
Ditulis pada Tak Berkategori | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Pengaruh Cara Pemberian Terhadap Absorbsi Obat

Absorpsi merupakan proses masuknya obat ke dalam tempat pemberian ke dalam darah. Bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran cerna (mulut sampai dengan rectum), kulit, paru, otot dan lain – lain. Yang terpenting adalah cara pemberian obatper oral, dengan cara ini tempat absorpsi utama adalah usus halus karena memiliki permukaanabsorrpsi yang sangat luas yakni 200 m2.(http://4ulied.wordpress.com)

Faktor – faktor yang mempengaruhi proses absorpsi :

  1. Kelarutan obat
  2. Kemampuan obat untuk berdifusi melintasi sel membran
  3. Konsentrasi obat
  4. Sirkulasi darah pada tempat absorpsi
  5. Luas permukaan kontak obat
  6. Bentuk sediaan obat
  7. Rute penggunaan obat

( Moh Anief, 1984)


Kecepatan pelepasan obat dari persediaan per oral disusun dengan urutan sebagai berikut :

  1. Larutan dalam air
  2. Suspensi
  3. Kapsul
  4. Tablet
  5. Tablet salut gula
  6. Tablet salut enterik

( Moh Anief, 1984)


Cara-cara pemberian obat untuk mendapatkan efek terapeutik yang sesuai adalah sebagai berikut:

1. Oral

Pemberian obat per oral merupakan pemberian obat paling umum dilakukan karena relatif mudah dan praktis serta murah. Kerugiannya ialah banyak faktor dapat mempengaruhi bioavailabilitasnya (faktor obat, faktor penderita, interaksi dalam absorpsi di saluran cerna). (Ansel, 1989)

Selain itu, efek yang timbul dari pemberian obat ini relatif lambat, tidak efektif jika pengguna sering muntah – muntah, diare, tidak sabar, tidak kooperatif, kurang disukai jika obat berasa pahit. (http://www.informasi-obat.com)

2. Sublingual

Cara pemberiannya ditaruh di bawah lidah. Tujuannya agar efek yang timbul bisa lebih cepat karena pembuluh darah dibawah lidah merupakan pusat dari sakit. Kelebihan dari cara ini adalah efek obat akan lebih cepat dan kerusakan obat pada saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari.(http://www.informasi-obat.com)

3. Inhalasi

Pemberiannya dengan cara disemprotkan ke dalam mulut. Kelebihan dari cara pemberian ini adalah absorpsi terjadi cepat dan homogen, kadar obat dapat terkontrol, terhindar dari efek lintas pertama dan dapat diberikan langsung kepada bronkus. Untuk obat yang diberikan dengan cara ini biasanya dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi akan sangat cepat bergerak melalui alveoli paru – paru serta membran mukosa pada saluran pernafasan (http://www.informasi-obat.com)

4. Rektal

Pemberiannya melalui dubur atau anus. Tujuannya adala mempercepat kerja obat serta bersifat lokal dan sistemik.(http://www.informasi-obat.com)

5. Topikal

Selain pemberian topikal untuk mendapatkan efek lokal pada kulit atau membran mukosa, penggunaan suatu obat hampir selalu melibatkan transfer obat ke dalam aliran darah. Tetapi, meskipun tempat kerja obat tersebut berbeda-beda, namun bisa saja terjadi absorpsi ke dalam aliran darah dan dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Absorpsi ke dalam darah dipengaruhi secara bermakna oleh cara pemberian(Katzung, 1986)

6. Parenteral

a)  Intravena (i.v)

Tidak ada fase absorpsi, obat langsung masuk ke dalam vena, “onset of action” cepat, efisien, bioavailabilitas 100 %, baik untuk obat yang menyebabkan iritasi kalau diberikan dengan cara lain, biasanya berupa infus kontinu untuk obat yang waktu-paruhnya (t1/2) pendek.(Joenoes, 2002)

b)  Intramuskular (i.m)

Onset of action” bervariasi, berupa larutan dalam air yang lebih cepat diabsorpsi daripada obat berupa larutan dalam minyak, dan juga obat dalam sediaan suspensi, kemudian memiliki kecepatan penyerapan obat yang sangat tergantung pada besar kecilnya partikel yang tersuspensi: semakin kecil partikel, semakin cepat proses absorpsi.(Joenoes, 2002)

c)  Subkutan (s.c)

“Onset of action” lebih cepat daripada sediaan suspensi, determinan dari kecepatan absorpsi ialah total luas permukaan dimana terjadi penyerapan, menyebabkan konstriksi pembuluh darah lokal sehingga difusi obat tertahan/diperlama, obat dapat dipercepat dengan menambahkan hyaluronidase, suatu enzim yang memecah mukopolisakarida dari matriks jaringan.(Joenoes, 2002)

d)  Intratekal

Berkemampuan untuk mempercepat efek obat setempat pada selaput otak atau sumbu serebrospinal, seperti pengobatan infeksi SSP yang akut.(Anonim, 1995)

e)  Intraperitonel (i.p)

Tidak dilakukan pada manusia karena bahaya (Anonim, 1995)

Pemberian obat secara parenteral memiliki beberapa keuntungan, yaitu:

1)      Efek timbulnya lebih cepat dan teratur dibandingkan dengan pemberian oral.

2)      Dapat diberikan pada penderita yang tidak koperatif, tidak sadar atau muntah – muntah.

3)      Sangat berguna pada keadaan darurat.

Sedangkan untuk kerugiaannya antara lain :

1)      Menyebabkan rasa nyeri

2)      Sulit dilakukan oleh pasaien sendiri

3)      Kurang ekonomis

(http://liew267.wordpress.com)

Ditulis pada Tak Berkategori | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Metabolisme

Metabolisme merupakan modifikasi senyawa kimia secara biokimia di dalam organisme dan sel. Metabolisme mencakup sintetis (anabolisme) dan penguraian (katabolisme) molekul organik kompleks.

(http://id.wikipedia.org)

Obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian pada umumnya mengalami absorpsi, distbusi dan pengikatan untuk sampai ditempat kerja dan menimbulkan efek. Kemudianatau dengan tanpa biotransformasi, obat disekresikan didalam tubuh.

(Anief, 2000)

Metabolisme obat atau biotransformasi adalah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi di dalam tubuh dan dikatalis oleh enzim.

(Syarif,1995)

Metabolisme obat terutama terjadi di hati, yakni di membran endoplasmic reticulum (mikrosom) dan di cytosol. Tempat metabolisme yang lain (ekstrahepatik)adalah dinding usus, ginjal, paru – paru, darah, otak dan kulit, juga di lumen kolon (oleh flora usus).

Tujuan metabolisme obat adalah mengubah obat yang non polar (larut lemak) menjadi non polar (larut air) agar dapat diekskresi melalui ginjal atau empedu. Dengan perubahan ini obat aktif umumnya diubah menjadi inaktif, tetapi sebagian berubah menjadi lebih aktif (jika asalnya prodrug), kurang aktif atau menjadi toksik.

(Farmakologi dan Terapi, 2007)

Biotransformasi terjadi dalam 2 fase yakni fase 1 dan fase . Fase 1 terjadi oksidasi, reduksi dan hidrolisis dimana metabolit diubah menjadi bentuk yang lebih polar. Reaksi biotransformasi terjadi pada fase 2, reaksi ini melibatkan reaksi konjugasi dan metabolit dan substrat endogen seperti asam glukoronat, sulfat dan gliserin. Metilasi dan asetilasi termasuk fase 2 reaksi konjugasi.

(http://abdurrahmansiddiq68.wordpress.com)

Reaksi fase I (Fase Non Sintetik)

Reaksi ini meliputi biotransformasi suatu obat menjadi metabolit yang lebih polarmelalui pemasukan atau pembukaan (unmasking) suatu gugus fungsional (misalnya –OH, -NH2, -SH). (Neal, 2005)

Reaksi fase I bertujuan untuk menyiapkan senyawa yang digunakan untuk metabolisme fase II dan tidak untuk menyiapkan obat untuk diekskresi. (Gordon dan Skett, 1991)

Reaksi – reaksi yang termasuk dalam fase I:

a)                  Reaksi Oksidasi

Reaksi ini terjadi pada berbagai molekulmenurut proses khusus tergantung pada masing – masing struktur kimianya, yaitu reaksi hidroksilasi pada golongan alki,aril dan heterosiklik; reaksi oksidasi alkohol dan aldehid; reaksi pembentukan N-oksida dan sulfoksida; reaksi deaminasi oksidatif; pembukaan inti dan sebagainya. Reaksi oksidasi dibagi menjadi 2, yaitu oksidasi yang melibatkan sitokrom P450 (enzim yang bertanggung jawab terhadap reaksi oksidasi) dan oksidasi yang tidak melibatkan sitokrom P450.

(Anonim, 1999)

Reaksi oksidasi meliputi :

©            Hidroksilasi aromatik

Sebagian besar, hasil oksidasi siklus aromatik adalah satu atau lebih gugus hiroksi yangterikat pada posisitertentu tergantung gugus yang telah ada pada siklus. Posisi hidroksilasi dapat dipengaruhi oleh jenis subsituen. (Gordon dan Skett, 1991)

©            Hidroksilasi alifatik

Rantai alkil samping sering dihidroksilasi pada akhir rantai satu atom yang kedua dari belakang (misalnya Phenobarbital). Hidroksilasi rantai alkil samping yang melekat pada cincin aromatik tidak mengikuti aturan umum rantai samping alkil karena cincin aromatik itu mempengaruhi posisi hidroksilasi. (Gordon dan Skett, 1991)

©            Dealkalisasi

Reaksi ini merupakan reaksi peniadaan radikal mula – mula terikat pada atom oksigen, nitrogen dan sulfur. (Devissaguet, 1993)

©            Desulfurasi

Pada turunan Tio tertentu (tio urea,semi karbon, organofosfor) adanya oksigen akan mengganti atom S dengan O (Devissaguet, 1993)

©            Dehalogenasi

Reaksi ini membutuhkan adanya oksigen molekuler dan NaDPH. (Gordon dan Skett, 1991)

©            Deaminasi oksidatif

Amina dimetabolisme oleh sistem oksidase campur mikrosom untuk melepas amonia dan meninggalkan keton (amina dioksidasi menjadi aldehid atau keton dengan bahan awal NH3). (Devissaguet, 1993)

b)                  Reaksi Reduksi (reduksi aldehid, azo dan nitro)

Hanya beberapa obat yang mengalami metabolisme dengan jalan reduksi, baik dalam letak mikrosomal maupun non mikrosomal. Dalam usus mikroba terdapat beberapa enzim reduktase, Gugus azo, nitro dan karbonilmerupakan subyak reduksi yang menghasilkan gugus hidroksi aminoyang lebih polar . Ada beberapa enzim reduktase dalam hati yang tergantung pada NADHatau NADPH yang mengkatalis reaksi tsb.

(Gordon dan Skett, 1991)

c)                  Reaksi hidrolisis (deesterifikasi)

Proses lain yang menghasilkan senyawa yang lebih polar adalah hidolisis dari ester dan amida oleh enzim. Esterase yang terletak baik mikrosom atau non mikrosom akan menghidrolis obat yang mengandung gugus ester. Di hepar lebih banyak terjadi reaksi hidrolisis dan terkonsentrasi, seperti hidrolisis peptidin oleh suatu enzim. Esterase non mikrosomal terdapat darahdan beberapa jaringan.

(Anief, 1995)

Reaksi fase II (fase sintetik)

Reaksi ini terjadi di dalam hati dan melibatkan konjugasi suatu obat ataumetabolit fase 1-nya dengan zat endogen. Konjugat yang dihasilkan hampir selalu kurang aktif dan merupakan molekul polar yang mudah diekskreso oleh ginjal. (Neal, 2005)

Reaksi –reaksi yang termasuk fase II:

a)                  Konjugasi asam glukoronat

Kojugasi dengan asam glukoronat merupakan cara konjugasi umum dalam proses metabolisme. Hampir semua obat mengalami konjugasi ini karena sejumlah besar gugus fungsional obat dapat berkombinasi secara enzimatik dengan sam glukoronat dan tersedianya D-asam glukoronat dalam jumlah yang cukup dalam tubuh. (Siswandono dan Soekardjo, 2000)

b)                  Metilasi

Reaksi ini mempunyai peran penting pada proses biosintesis beberapa senyawa endogen, seperti norepinefrin, epinefrin dan histamin serta untuk proses bioinaktifasi obat. Koenzim yang terlibat pada reaksi metilasi adalah S-adenosil-metionin (SAM). Reaksi ini dikatalis oleh enzim metiltransferase yang terdapat dalam sitoplasm dan mikrosom. (Siswandono dan Soekardjo, 2000)

c)                  Konjugat sulfat

Terutama pada senyawayang mengandung gugus fenoldan kadang – kadang juga terjadi pada senyawa alkohol, amin aromatik dan senyawa N-hidroksi. Konjugasi sulfat pada umumnya untuk meningkatkankelarutan senyawa dalam air dan membuat senyawa menjadi tidak toksik. (Siswandono dan Soekardjo, 2000)

d)                 Asetilasi

Merupakan jalur metabolisme obat yang mengandung gugus amin primer, sulfonami, hidrasin, hidasid dan amina alifatik primer. Fungsi utama asetilasi adalah membuat senyawa inaktif dan untuk detoksifikasi. (Siswandono dan Soekardjo, 2000)

e)                  Pembentukan asam mekapturat

Asam mekapturat adalah turunan S dari N-asetilsisten yang disintesis dari GSH. Reaksi konjugasi terjadi dengankombinasi pada sistein dan glutation dengan bantuan enzim dalam fraksi supernatandan homogenat jaringanterutama hati dan ginjal. (Devissaguet, 1993)

Induksi dan Inhibisi Enzim

Beberapa senyawa atau xenobiotikayang larut baik dalam lemakdengan masa kontak dalam hati yang lama mampu menginduksi peningkatan pembentukan enzim – enzim yang terlibat dalam metabolisme. Karena itu disebut sebagai induktor. Induktor dibagi menjadi2 berdasarkan enzim yang diinduksi yaitu jenis fenobarbital dan jenis metilkolantaren.

Induktor jenis fenobarbital akan menaikkan proliferasi RE dan dengan demikian bekerja menaikkan dengan jelas bobot hai. Induksi terutama pada sitokrom P450 dan juga pada glukoronil transferasem glutation transferasedan epoksida hidrolase. Induksi yang terjadi relatif cepat dalam waktu beberapa hari. Sedangkan pada jenis metilkolantaren yang termasuk disini khususnya karbohidrat aromatik (misalnya benzipiren,  metilkolantaren, triklordibenodioksin, fenantren) dan beberapa herbisida terutama meningkatkan kerja sitokrom P450 dan sintesis glukoronil transferase, Proliferasi RE dan dengan demikian kenaikan bobot hati hanya sedikit.

Sedangkan pada penambahan inhibitor enzim terjadi pula mekanisme inhibisi enzim dngan cara sebagai berikut. Bahan obat yang menyebabkan penurunan sintesis atau menaikan penguraian enzim RE atau antara 2 obat atau beberapa obat terdapat persaingan tempat ikatanpada enzim. Akibatnya terjadi  penghambatan penguraian kompetitif sehingga laju metabolisme menurun.

(http://yudhiestar.blospot.com)

Jalur metabolisme obat yaitu modifikasi dan penguraian obat – obatan dan senyawa ksenobiotik lainnya melalui sistem enzim khusus mencakup:

©               Sistem sitrokom P450 oksidase

©               Sistem monooksigenase berkandungan flavin

©               Metabolisme alkohol

(http://id.wikipedia.org)

©            Anief, 1995, Perjalanan dan Nasib Obat dalam Badan, UGM Press, Yogyakarta

©            Anief, Moh, Prof, Drs, Apt,  2000, Prinsip Utama Dalam Farmakologi, UGM Press, Yogyakarta

©            Anonim, 2010, Metabolisme Obat, http://yudhiestar.blospot.com, diakses tanggal

©            Anonim, 2009, METABOLISME, http://id.wikipedia.org, diakses tanggal 25 Maret 2010

©            Anonim, 1999, Majalah Farmasi IndonesiaVol 10 No 04, Mandiri Jaya Offset, Yogyakarta

©            Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 2007, Farmakologi Dan Terapi Edisi V, Gaya Baru, Jakarta

©            Devissaguet,. J. Aiache Jm, 1993, Farmasetika 2 Biofarmasetika, Airlangga University Press, Jakarta

©            Gibson, G. Gordon dan Paul Skett, 1991, Pengantar Metabolisme Obat, UI Press, Jakarta

©            Neal, M. J,  2005, At Glance Farmakologis Medis Edisi Ke V, Erlangga, Jakarta

©            Syarif, Amin, 1995, Farmakologi Dan Terapi Edisi IV, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran UI, Jakarta

©            Siswandono dan Soekardjo, Bambang, 2000, Kimia Medisinal, Airlangga University Press, Jakarta

Ditulis pada Tak Berkategori | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Antiinflamasi

Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap luka jaringan yang di sebabkan oleh trauma fisik, zat kimia yang merusak, atau zat-zat mikrobiologik. Inflamasi adalah usaha tubuh untuk menginaktivasi atau merusak organisme yang menyerang, menghilankan zat iritan, dan mengatur derajat perbaikan jaringan. Jika penyembuhan lengkap, proses peradangan biasanya reda. Namun kadang-kadang inflamasi tidak bisa di cetuskan oleh suatu zat yang tidak berbahaya seperti asma. Pada kasus ini reaksi pertahanan diri sendiri mungkin menyebabkan luka progresif, dan obat-obat anti inflamasi atau imunosupresi mungkin mungkin di perlukan untuk memodulasi proses peradangan. Inflamasi dicetuskan oleh pelepasan mediator kimiawi dari jaringan yang rusak dan migrasi sel. Mediator kimiawi spesifik bervariasi dengan tipe proses peradangan dan meliputi amin seperti: histamin dan 5-hidroksitriptamin, lipid seperti prostaglandin, peptida kecil seperti bradikinin dan peptida besar seperti interleukin. Penemuan variasi yang luas diantara mediator kimiawi yang tampak untuk obat anti inflamasi dapat mempengaruhi kerja mediator utama yang tidak melibatkan mediator target obat.
Glukokortikoid, digunakan untuk menekan inflamasi, alergi, dan respon imun. Terapi antiinflamasi digunakan banyak penyakit seperti asma bronkial, artritis reumatoid, inflamasi berat pada mata dan kulit. Supresi sistem imun bermanfaat dalam mencegah penolakan setelah transplantasi jaringan. Steroid digunakan untuk menekan limfopoiesis.
Mekanisme kerjanya kortison berdifusi ke dalam sel target dan terikat pada reseptor glukokortikoid sitoplasma yang termasuk dalam reseptor steroid. Kompleks reseptor glukokortikoid yang teraktifasi memasuki nukleus dan terikat pada elemen respon steroid pada molekul DNA target dan ikatan ini menginduksi sintesis mRNA sprsifik dengan menghambat faktor transkripsi. Untuk sebagian besar glukokortikoid mempunyai afinitas yang lebih tinggi untuk reseptor, kurang cepat diinaktifasi, dan mempunyai sedikit ataupunn tidak mempunyai sifat menahan garam.
Efek metabolik glukokortikoid adalah memfasilitasi perubahan protein menjadi glikogen. Glukokortikoid menghambat sintesis protein dan menstimulasi katabolisme protein menjadi asam amino. Glukogeno genesis, deposisi glikogen, dan pelepasan glukosa dari hati distimulasi, tetapi glukosa perifer dihambat.
Kortikosteroid mempunyai efek yang nyata dan banyak digunakan untuk antiinflamasi dan imunosupresif, dengan menekan semua fase respon inflamasi, termasuk pembengkakan dini, kemerahan, dan nyeri. Sel-sel imunokompeten dan mkrofag dalam sirkulasi dikurangi dan pembentukan mediator proinflamasi, seperti prostaglandin, leukotrien, dihambat. Steroid menghasilkan efek yang terakhir ini dengan menstimulasinsintesis protein dalm leukosit yang menghambat fosfolipase A2. Enzim ini, terletak dalam membran sel, diaktivasi dalam sel-sel yang rusak dan bertanggungjawab dalam pembentukan asam arachidonat yang merupakan prekurson mediator inflamasi.
Kortikosteroid juga menekan gen yang mengkode reseptor fosfolipae, siklooksigenase. Glukokortikoid menurunkan fungsi monosit/makrofag dan mrngurangi limfosit yangberasal dari timus dalam pelepasan interleukin. Transport limposit ke lokasi stimulasi proliferasi, stimulasi antigenik dan produksi antibodi juga dihambat.
Glukokortikoid menyebabkan efek samping, terutama dalam dosis tinggi yang dibutuhkan untuk aktivitas antiinflamasi. Efek metabolik dosis tinggi dengan cepat menyebabkan wajah pleorik yang bulat (moon face) redistribusi lemak dari ekstremitas ke sumbu dbadan dan wajah. Terjadi stiae ungu dan kecenderungan untuk memar. Gangguan metabolisme karbohidrat menyebabkan hiperglikemia dan kadang diabetes. Hilangnya protein dari otot skelet menyebabkan pengurangan masa dan kelemahan otot. Hal ini tidak dapat diatasi oleh protein dari makanan karena sintesis protein dihambat. Peningkatan katabolisme tulang bisa menyebabkan osteoporosis.
Banyak obat anti inflamasi nonsteroid (AINS) bekerja dengan jalan menghambat sintesis prostaglandin. Jadi penghambatan akan obat AINS memerlukan pengertian kerja dan biosintesis prostaglandin turunan asam lemak tak jenuh yang mengandung 20 karbon yang meliputi suatu struktur cincin siklik.
Prostaglandin dan senyawa yang berkaitan diproduksi dalam jumlah kecil oleh semua jaringan. Umumnya bekerja lokal pada jaringan tmpat prostaglandin tersebut di sintesis, dan cepat di metabolisme menjadi produk inaktif pada tempat kerjanya. Karena itu prostaglandin tidak bersirkulasi dengan konsentrasi bermakna dalam darah. Tromboksan, leukotrien, dan asam hidroksiperoksieikosatetraenoat dan asam hidroksieikosatetraenoat mrupakan lipid yng berkaitan, disintesis dari prekursor yang sama sebagai prostaglndin.
Asam arachidonat, suatu asam lemak 20-karbon, adalah prekursor utama prostaglandin dan senyawa yang berkaitan. Asam arachidonat terdapat dalam komponen fospolipid membran sel,terutama fosfatidil inositol dan kompleks lipidnlainnya. Asam arachidonat bebas dilepaskan dari jaringan fosfolipid oleh kerja fosfolipase A2 dan asil hidroklase lainnya, melalui suatu proses yang dikontrol oleh hormon dan rangsangan lain.
Ada dua jalan utama sintesis eikosanoid dari arachidonat:
 Jalan siklo-oksigenase : Semua eikosanoid berstruktur cincin tesis melalui jalan siklo-oksigenase. Telah diteliti dua siklo-oksigenase:COX-1 dan COX-2. Yang pertama bersifat ada dimana-mana dan pembentuk, sedangkan yang kedua diinduksi dalam respon terhadap rangsang inflamasi.
 Jalan lipooksigenase : Jalan lain, beberapa lipooksigenase dapat bekerja pada asam arachidonat untuk membentuk 5-HPETE, 12-HPETE, 15-HPETE, yang merupakan turunan peroksidasi tidak stabil yang dikonversikan menjadi dua turunan hidroksilasi yang sesuai, atau menjadi leukotrien atau lipoksin, tergantung pada jaringan.
Kebanyakan efek prostaglandin diperantarai oleh ikatan pada berbagai reseptor membran yang berbeda yang beroperasi melalui protein G, yang kemudian mengaktivasi atau menghambat adenilil siklase atau merangsang fosfolipase C. Hal ini menyebabkan peningkatan pembentukan diasilgliserol dan inositol-1,4,5-trifosfat. PGF, leukotrien, dan tromboksan memperantarai efek-efek tertentu dengan jalan mengaktivasi metabolisme fosfatidilinositol dan dapat menyebabkan peningkatan Ca2+ intraseluler.
Obat-obat antiinflamasi nonsteroid merupakan grup obat yang secara kimiawi tidak sama, yang berbeda aktivitas antipiretik, analgesik dan antiinflamasinya. Obat-obat ini terutamabekerja dengan jalan menghambat enzim siklooksigenase tetapi tidak enzim lipooksigenase.
Obat-obat AINS, mempunyai tiga efek terapi utama, yaitu mengurangi inflamasi (antiinflamasi), rasa sakit (analgesik) dan demam (antipiretika).
• Efek anti-inflamasi : obat dapat menghambat siklooksigenase, sehingga pembentukan prostaglandin dan juga modulasi beberapa aspek inflamasi dan prostaglandin bertindak sebagai mediator.
• Efek analgesik : prostaglandin diduga mensensitisasi ujung saraf terhadap efek bradikinin, histamin, dan mediator kimiawi lainnya yang dilepaskan secara lokal oleh proses inflamasi. Jadi dengan menurunnya sintesis prostaglandin, obat AINS lainnya menekan sensasi rasa sakit.
• Efek antipiretik : demam terjadi jika “set point” pada pusat pengatur panas di hipotalamus arterior meningkat. Hal ini disebabkan oleh sintesis prostaglandin yang di rangsang bila suatu zat demam endogen (pirogen) seperti sitokin di lepaskan dari sel darah putih yang diaktivasi oleh infeksi, hipersensitifitas, keganasan, atau inflamasi. Obat AINSmengembalikan “termostat” kembali ke normal dan cepat menurunkan suhu tubuh penderita demam dengan meningkatkan pngeluaran panas sebagai akibat vasodilatasi perifer dan berkeringat.
• Efek terhadap pernafasan : pada dosis terapi, dapat meningkatkanventilasi alveoli. Pada dosis tinggi bekerja langsung pada pusat pernafasan di medula, mengakibatkan hiperventilasi dan respirasi alkalosis yang biasanya di kompensasi secara adekuat oleh ginjal. Pada kadar toksik, terjadi paralisis pusat pernafasan dan respirasi asidosis yang di akibatkan oleh produksi CO2 secara kontinu.
• Efekterhadap saluran cerna : secara normal, prostasiklin menghambat sekresi asam lambung, sedangkan prostaglandin merangsang sintesis mukus protektif dalam lambungdan usus kecil. Dengan adanya obat AINS, prostanoid-prostanoid tidak terbentuk, yang mengakibatkan sekresi asam lambung meningkat dan mukus protektif
(Farmakologi ulasan bergambar, hal 405)

Secara invitro terbukti bahwa prostaglandin dan prostasiklin dalam jumlah nanogram, menimbulkan eritem, vasodilatasi dan peningkatan aliran darah lokal. Histamin dan bradikinin dapat meningkatkan permeabilitas vaskuler, tetapi efek vasodilatasinya tidak besar. Dengan penambahan prostaglandin, efek eksudasi histamin plasma dan brakinin menjadi lebih jelas. Migrasi leukosit ke jaringan radang merupakan aspek penting dalam proses inflamasi. Prostaglandin sendiri tidak bersifat kemotaktik, tetapi produk lain dari asam arachidonat yakni leukotrien merupakan zat kemotaktik yang sangat poten. Obatmirip aspirin tidak menghambat sistem hipooksigenase yang menghasilkan leukotrien sehingga golongan obat ini tidak menekan migrasi sel. Walaupun demikian pada dosis tinggi terlihat penghambatan migrasi sel tanpa mempengaruhi enzim lipooksignase. Obat yang menghambat biosintesis prosraglandin maupun leukotrien akan lebih poten menekan proses inflamasi.
RASA NYERI. Prostaglandin hanya berperan pada nyeri yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau inflamasi. Prostaglandin menyebabkan sensitisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi. Jadi prostaglandin menimbulkan keadaan hiperalgesia, kemudian mediator kimiawi serta brankinin dan histamin merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang nyata.
Obat mirip aspirin tidak mempengaruhi hiperalgesia atau nyeri yang di timbulkan oleh efek langsung prostaglandin. Ini menunjukan bahwa sintesis prostaglandi yang di hambat oleh obah ini, dan bukannya blokade langsung.
DEMAM. Suhu badan di atur oleh keseimbangan antara produksi dan hilangnya panas. Alat pengatur suhu tubuh berada di hipotalamus. Pada keadaan demam keseimbangan ini terganggu tetapi dapat dikembalikan ke normal oleh obat yang mirip aspirin. Peningkatan suhu tubuh pada keadaan patologik di awali penglepasan suatu zat pirogen endogen atau sitokin seperti interleukin yang memicu penglepasan prostaglandin yang berlebih di daerh preoptik hipotalamus. Obat seperti aspirin menekan efek zat pirogen endogen dengan menghambat sintesis prostaglandin.

(Farmakologi dan Terapi, hal 2005)

Obat – obat yang digunakan antara lain :
• Na-Diklofenak

NSAID yang terkuat anti radangnya, efek sampingnya kurang keras dibandingkan dengan obat kuat lainnya ( indometasin, piroxicam). Obat ini sering digunakan untuk segala macam nyeri, juga pada migraine dan encok. Secara parenteral sangat efektif untuk menanggulangi nyeri kolik hebat (kandung kemih dan kandung empedu).
Resorpsinya dari usus cepat dan lengkap, tapi bioavailabilitasnya rata-rata 55% akibat first pass effect besar. Efek analgetisnya dimulai setelah 1jam. Ekskresi melalu kemih berlangsung untuk 60% sebagai metabolit dan untuk 20% dengan empedu dan tinja.
( Tan Hoan Tjay & Karana Rahardja, 2003)

• Ibu profen

Merupakan golongan propionate, termasuk NSAID yang paling sering digunakan karena efek sampingnya yang relative ringan dan status OTC-nya di kebanyakan negara. Merupakan bentuk campuran rasemis, denganbentuk dextro yang aktif. Memiliki daya analgetik dan antiradang yang cukup baik.
Resorpsinya dari usus cepat dan baik, melalui rectal lebih lambat. PP-nya 90-99%, plasma t ½nya 2 jam. Ekskresi berlangsung terutama sebagai metabolit-metabolit dan konjugat-konjugatnya.

( Tan Hoan Tjay & Karana Rahardja, 2003)

• Deksametason

Merupakan derivate 9-alfa-fluor, bekerja 6x lebih kuat dari kortisol. Menekan adrenal relative kuat, maka resiko insufiensi juga agak besar. Zat ini digunakan sebagai zat diagnostic untuk menentukan hiperfungsi adrenal (tes-supresi deksametason).
( Tan Hoan Tjay & Karana Rahardja, 2003)

• Metil prednisolon

Mempunyai daya antiinflamasi 20% lebih kuat daripada prednisolon dengan berbagai cara penggunaan oral dan parenteral. Merupakan obat yang paling banyak digunakan pada inflamasi dan alergi tinggi.

Ditulis pada Tak Berkategori | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Optimasi Metode Analisa Obat

Farmakokinetik meneliti perjalanan obat, mulai dari saat pemberianya, bagaimana absorbsi dari usus transport dalam darah, dan distribusinya ketempat kerjanya dan jaringan lainya. Begitu pula bagaimana perombakannya (biotransformasi) dan akhirnya diekskresi oleh ginjal. Singkatnya farmakokinetik mempelajari segala sesuatu tindakan yang dilakukan tubuh terhadap obat. (Tjan Hoan Tjay, 2007)

Tehnik analisis hanya merujuk pada pengukuran dan evaluasi hasil pengukuran. Metode analisis merujuk pada penetapan kadar senyawa tertentu dan evaluasi hasil pengukuran, sedangkan prosedur analisis merupakan serangkaian proses mulai dari penyiapan sampel sampai evaluasi hasil pengukuran. Keseluruhan tahap atau langkah prosedur analisis dapat diringkas sebagai berikut:
a. Definisi masalah
Definisi masalah terkait dengan informasi analisis yang berhubungan dengan tingkat akurasi yang dibutuhkan. Selain itu menyangkut berapa lama waktu yang dibutuhkan, biaya diperlukan, ketersediaan alat, bahan, dan pelarut yang dibutuhkan untuk analisis.
b. Pemilihan teknik dan metode analisis.
Pemilihan teknik dan metode analisis terbaik yang akan digunakan untuk analisis sampel harus diperhatikan, apakah akan menggunakan kromatografi, spektrofotometri, titrimetri, atau yang lain.
c. Pengambilan sampel
Sampel harus dapat mewakili materi yang akan dianalisis secara utuh. Masalah pengambilan sampel merupakan hal yang tidak boleh dipandang ringan karena dari cara kita mengambil sampel itulah diperoleh hasil analisis.
d. Pra-perlakuan sampel atau pengkondisian.
Pengubahan analit ke bentuk yang sesuai sehingga analisis dapat dideteksi atau dapat diukur harus juga diperhatikan. Tahap ini berkaitan dengan metode pemisahan. Pemilihan teknik-teknik pemisahan untuk suatu situasi yang spesifik tergantung pada sejumlah faktor. Pemilihan teknik ini umumnya didasari pada ketelitian dan ketepatan hasil analisis yang diperlukan.
e. Pengukuran analit yang diperlukan
Berbagai sifat fisika kimia dapat digunakan sebagai suatu cara identifikasi kualitatif dan pengukuran kuantitatif atau keduanya.
f. Perhitungan dan interpretasi data analisis
Suatu analisis dapat dikatakan selesai jika hasil-hasilnya dinyatakan sedemikian rupa sehingga si peminta analisis (customer) dapat memahami artinya.

Metode analisis
Suatu metode analisis terdiri atas serangkaian langkah yang harus diikuti untuk tujuan analisis kuantitatif, kualitatif, dan informasi struktur dengan menggunakan teknik tertentu. Dalam setiap analisis, pemilihan suatu metode analisis harus memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:
1. Tujuan analisis, biaya yang dibutuhkan, serta waktu yang diperlukan.
2. Level analit yang diharapkan dan batas deteksi yang diperlukan.
3. Macam sampel yang akan dianalisis serta pra-perlakuan sampel yang dibutuhkan.
4. Jumlah sample yang dianalisis.
5. Ketepatan dan ketelitian yang diinginkan untuk analisis kuantitatif.
6. Ketersediaan bahan rujukan, senyawa baku, bahan-bahan kimia, dan pelarut yang dibutuhkan.
7. Peralatan yang tersedia.
8. Kemungkinan adanya gangguan pada saat deteksi atau pada saat pengukuran sampel.

Metode yang baik harus memenuhi beberapa kriteria yaitu metode harus:
1. Peka (sensitive), artinya metode harus dapat digunakan untuk menetapkan kadar senyawa dalam kosentrasi yang kecil.
2. Tepat (precise), artinya metode tersebut menghasilkan suatu hasil analisis yang sama atau hampir sama dalam satu seri pengukuran.
3. Teliti (accurate), artinya metode dapat menghasilkan nilai rata-rata (mean) yang sangat dekat dengan nilai senenarnya(true value).
4. Selektif, artinya untuk menetapkan kadar tertentu, metode tersebut tidak banyak terpengaruh oleh adanya senyawa lain.
5. Kasar (rugged), artinya adanya perubahan komposisi pelarut atau variasi lingkungan tidak menyebabkan perubahan hasil analisis.
6. Praktis, artinya metode tersebut mudah dikerjakan serta tidak banyak memerlukan waktu dan biaya.
Walaupun untuk memenuhi semua persyaratan di atas sulit dicapai, namun sekurang-kurangnya metode analisis harus memenuhi syarat ketepatan, ketelitian, dan selektivitas. (Sudjadi, 2008)

Sulfametoxazol
Sulfametoxazol mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 101,0% C10H11N3O3S dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
• Pemerian : Serbuk hablur, putih sampai hampir putih; praktis tidak berbau
• Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, dalam eter dan dalam kloroform; mudah larut dalam aseton dan dalam larutan natrium hidroksida encer; agak sukar larut dalam etanol. (Depkes RI, 1995)
Sulfametoxazol merupakan senyawa antimikroba golongan sulfonamida. Sulfametoxazol merupakan turunan dekat sulfisoksazol, namun memiliki kecepatan absorbsi enterik melalui urine yang lebih lambat. Obat ini diberikan secara oral dan digunakan untuk sistemik maupun untuk infeksi saluran urine. Perhatian harus diberikan untuk menghindari kristaluria sulfametoxazol akibat tingginya persentase bentuk obat terasetilasi yang relati tidak larut air di dalam urine. (Goodman & Gilman, 2003)
Sulfametoxazol merupakan turunan sulfonamide yang bekerja terhadap sejumlah mikroba gram positif dan beberapa mikroba gram negatif. Kadar maksimum dalam darah dan jaringan akan dicapai setelah 2-6 jam. Ekskresinya hampir seluruhnya terjadi melalui ginjal. Zat ini tidak hanya difiltrasi secara pasif , tetapi juga disekresi tubulus secara aktif. (Mutschler, E. ,1991)
Sulfametoxazol merupakan derivat sulfisoksazol dengan absorbsi dan ekskresi yang lebih lambat. Dapat diberikan pada pasien dengan infeksi saluran kemih dan infeksi saluran sistemik. Kristaluria lebih sering timbul karena persentase asetilasinya tinggi. (Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 2007)
Sulfametoxazol PP 65%. Plasma-t ½-nya k.l. 10 jam dan ekskresinya via kemih, 25% dalam keadaan utuh dan 60% sebagai metabolit-asetilnya. Zat ini terutama digunakan terkombinasi dengan trimetoprim. (Tjay, Tan Hoan;2007)
Mekanisme kerja:
Sulfonamida (Sulfametoxazol) merupakan analog struktur dan antagonis kompetitif asam para-aminobenzoat (PABA) sehingga mencegah penggunan PABA secara normal oleh bakteri untuk sintesis asam folat. Secara lebih spesifik, Sulfonamida merupakan inhibitor kompetitif enzim dihidropteroat sintase, yakni enzim bakteri yang bertanggung jawab atas penggabungan PABA ke dalam asam dihidropteroat, prekusornya dekat asam folat.
Sulfametoxazol, absorbsi dalam saluran cerna cepat dan sempurna, dan ± 70% terikat oleh protein plasma. Dalam darah 10-20% obat terdapat dalam bentuk terasetilasi. Kadar plasma tertinggi dicapai dalam 4 jam setelah pemberian secara oral, dengan waktu paro 10-12jam. Dosis oral awal : 2 g, diikuti 1 g 2-3 dd, sampai infeksi terkendali. (Siswandono dan Bambang S, 2000)

Dapus:

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Farmakologi dan Terapeutik. 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Gaya Baru.
Goodman dan Gilman. 2003. Dasar Farmakologi Terapi. Volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Mutschler, Ernest. 1991. Dinamika Obat. Bandung: ITB.
Shargel, Leon dan B. C Andrew. 1985. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan. Surabaya: Airlangga University Press.
Siswandono dan Bambang Soekardjo. 2000. Kimia Medisinal. Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press.
Sudjadi. 2008. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka pelajar Yogyakarta.
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Ditulis pada Tak Berkategori | Di-tag | Tinggalkan Komentar

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Ditulis pada Tak Berkategori | 1 Komentar